WAHANA KREASI PEMUDA HINDU SUMATERA SELATAN

Sabtu, 08 November 2008

RUMAH LIMAS



RUMAH LIMAS

Rumah limas merupakan salah satu peninggalan kebudayaan dari kerajaan Sriwijaya, mulai dikenal masyarakat sebagai rumah tradisional, sejak jaman Kesultanan Palembang Darusalam.

Perpaduan budaya Melayu dan Jawa, menjadi ke – khasan yang dimiliki oleh kota Palembang sejak dahulu, dan diakui telah menjadi citra budaya masyarakat setempat. cerminan hubungan budaya melayu dengan jawa, dalam kehidupan masyarakat palembang dapat dilihat dari beberapa aspek kehidupan masyarakat palembang, salah satunya bangunan tradisional , atau rumah limas.

Pada mulanya, fungsi rumah limas adalah sebagai tempat kediaman bangsawan atau golongan priayi. rumah limas dibuat seperti rumah panggung, hal ini dikarenakan kondisi lahan di palembang pada saat itu merupakan daerah yang cenderung digenangi air, disebabkan di kota palembang banyak terdapat anak-anak sungai musi , yang berada di dalam kota.

Sebelum masa kolonial, rumah limas ini orientasinya ke sungai, akan tetapi setelah kolonial membangun jalan, maka rumah limas menghadap ke ruas jalan.

Atap rumah limas berbentuk piramida terpenggal, dengan sudut kemiringan atap utama antara 45 derajat hingga 60 derajat, dan kemiringan atap pada bagian depan antara 10 derajat, hingga 20 derajat.

Di bagian atas atap limas terdapat ornamen berupa simbar dan tanduk. simbar diartikan sebagai mahkota rumah dengan hiasan bunga melati, yang melambangkan kerukunan dan keagungan rumah adat limas tersebut . sedangkan tanduk berfungsi sebagai penghias atap , namun jumlah tanduk tersebut mempunyai arti tersendiri, biasanya disebut tanduk kambing . beberapa sumber mengatakan bahwa jumlah tanduk kambing menunjukkan tingkat sosial, atau derajat kebangsawanan dari si pemilik rumah.

Sebelum memasuki rumah limas, kita akan menjumpai garang, yang sering juga disebut sebagai beranda. garang merupakan ruang transisi antara tangga dengan pagar tenggalung. pagar tenggalung merupakan ruang paling depan dari rumah limas, yang berfungsi sebagai ruang tamu.

Menurut bapak johan hanafiah, rumah limas dapat dicirikan sebagai berikut :
- Atapnya berbentuk limas
- Badan rumah berdinding papan , dengan pembagian ruangan yang telah ditetapkan,standar, serta lantai runah yang bertingkat-tingkat atau keejing
- Keseluruhan atap dan dinding serta lantai rumah bertopang atas tiang-tiang yang tertanam di tanah
- Mempunyai ornamen dan ukiran yang menonjolkan kharisma dan identitas rumah tersebut

Dinding dan pintu rumah limas umumnya dilengkapi dengan ukiran atau hiasan , yang mengisyaratkan bahwa masyarakat palembang mempunyai daya seni yang cukup tinggi akan keindahan.

Pak Mir Senen
Bercerita tentang susunan rumah limas
Bercerita tentang ukiran-ukiran
Bercerita tentang mengapa rumah limas tidak terdapat bangku

Lantai bertingkat, atau kekejing yang menjadi ciri khas rumah limas, biasanya terdiri dari tiga hingga lima buah. tingkatan paling tinggi biasanya akan menjadi tempat bagi tamu dari kalangan bangsawan, sedangkan tingkatan terendah diperuntukkan bagi rakyat biasa.

Dari segi denah bangunan, lantai rumah limas palembang mempunyai tingkatan perbedaan lantai yang disebut bengkilas. dalam ruang bengkilas inilah para tamu duduk menurut derajat kehidupan serta martabat masing-masing.

Terdapat beberapa pendapat yang berkaitan dengan fungsi bengkilas. pendapat yang pertama mengatakan bahwa pada perayaan upacara adat atau kegiatan perkawinan, orang yang boleh duduk di bengkilas diatur menurut gelar kebangsawanan dalam adat palembang, misalnya golongan raden boleh duduk di bengkilas pocook, golongan masagus duduk di bengkilas tengah, golongan kemas duduk pada lantai bengkilas di bawah masagus, dan golongan kibagus duduk di bengkilas bawah. sedangkan golongan rakyat , duduk di bagian luar. hal ini disesuaikan dengan budaya kraton, atau bangsawan pada masa kesultanan palembang, yang terdapat perbedaan derajat kedudukan di dalam masyarakat palembang.

Pendapat lain mengatakan bahwa tingkatan lantai bengkilas tersebut tidak mengacu pada gelar kebangsawanan seseorang, tetapi lebih mengacu pada tingkat kehidupan seseorang antara tua dan yang muda , dalam suatu masyarakat. dalam artian, bengkilas poocok hanya boleh diduduki oleh orang yang cukup tua atau dianggap sesepuh masyarakat, dan yang muda duduk di bengkilas bawahnya.

Legam arsitektur rumah limas secara filosofis menunjukkan adanya pengaruh strata masyarakat, yang tercermin yang tercermin pada ketinggian lantai yang berbeda. lantai tertinggi merupakan ruang gegajah yang diperuntukan bagi pemilik rumah, sedangkan lantai berikutnya yang lebih rendah, kearah depan diperuntukkan bagi kelompok masyarakat tertentu sesuai statusnya.

Ruang gegajah berada di bengkilas pocook, tepatnya terletak di bawah puncak atap limas. di ruang gegajah ini terdapat ruang pangkeng, amben tetuo, dan amben keluarga. ruang ini merupakan ruang yang tertinggi dan terhormat dibandingkan dengan ruang-ruang yang lainnya, karena ruang gegajah ini merupakan ruang privasi yang paling tinggi.

Pangkeng merupakan ruang tertutup, yang memiliki dinding empat bidang, yang berfungsi sebagai kamar tidur kepala keluarga atau kamar penganten. pada rumah limas terdapat satu buah pangkeng yang terletak dikiri kanan ruang gegajah. untuk dapat memasuki ruang pangkeng, tidak dapat dilalui begitu saja, karena di bawah pintu pangkeng di tambah papan penghalang setinggi lebih kurang enam puluh sentimeter. pada uparaca perkawinan adat, biasanya pangkeng dijadikan sebagai kamar pengantin, sehingga disebut pangkeng pengantin.

Ruangan lain seperti ruangan keluarga, kepala keluarga, dan anak menantu, sesuai namanya diperuntukkan buat kepala keluarga, keluarga, dan anak menantu. susunan atau pengaturan ruangan seperti itu menunjukkan bahwa rumah limas palembang memiliki penataan atau tata ruang , yang disesuaikan dengan struktur keluarga yang mendiami sebuah rumah. sebuah rumah limas biasanya didiami oleh beberapa keluarga inti, yang berasal dari satu keturunan.

Ditengah-tengah ruang gegajah, terdapat apa yang disebut amben tetuo. fungsi amben tetuo adalah sebagai tempat pemilik rumah menerima tamu kehormatan atau besan, dan sebagai tempat pelaminan penganten pada acara perkawinan.

Pawon merupakan ruang dapur yang berfungsi untuk kegiatan yang bersifat service , misalnya memasak, makan, dan sebagainya. lantai pada ruang pawon lebih rendah dari lantai di ruang gegajah.

Hampir disemua kegiatan sosial kemasyarakatan dilakukan didalamnya, mulai dari tapu, musyawarah antar sanak famili dan handai taulan , sampai pada upacara hajatan , seperti mencukur anak, menikahkan , serta pada saat upacara kematian. oleh karena itu, rumah limas sering disebut tempat tinggal yang multi fungsi.

Adanya pengaruh jawa pada budaya palembang merupakan sesuatu yang tidak terbantahkan, dan menjadi identitas khas kebudayaan palembang. hal ini menyiratkan bahwa pada masa dahulu masyarakat palembang telah berinteraksi dengan suku bangsa lain, dan hidup bersama dalam keanekaragaman budaya sejak dahulu. interaksi atau kontak budaya itu tidak hanya dengan suku bangsa jawa, tetapi juga dengan etnis lain seperti arab, cina, minang, dan lainnya. hal itu menggambarkan bahwa bagi masyarakat palembang, heterogenitas kebudayaan atau multikultural, bukanlah sesuatu yang baru dan merupakan identitas khas, yang seyogyanya tetap terjaga dan lestari.

Bagi pembaca yang ingin melihat palembang tempo doeloe dan Picture lebih banyak tentang palembang silahkan kunjungi blog berikut; www.wisata-palembang.blogspot.com

Label:

3 Komentar:

Anonymous Anonim mengatakan...

bagus tuh posting sama blognya
ijin sedot ya hehehehehe......
maklum aku lagi nyari artikel rumah limas

lam kenal
putu

22 November 2008 23.42

 
Anonymous Anonim mengatakan...

hehehehehehehe
bagus tuh lumaya

lur kapan jalan nih
lo sekarang gemukan ya
jadi inget waktu lo kurus kering dulu

lucuuuuuuuuuuuu
hehehehehehehe
dodi

22 November 2008 23.46

 
Anonymous anna mengatakan...

Bli Putu, salam kenal dan ijin ambil gambar-nya ya.. suksme bli ^_^

14 September 2010 21.00

 

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda