WAHANA KREASI PEMUDA HINDU SUMATERA SELATAN

Rabu, 12 November 2008

KAMPUNG KAPITAN






Sebuah pemandangan hangat akan menyambut kita, apabila melewati lorong kecil di kawasan seberang ulu palembang, tepatnya di daerah 7 ulu, dibawah jembatan ampera ke arah kiri. kampung kapitan, sebentuk perkampungan kecil, dimana tinggal dengan rukun , masyarakat dari berbagai etnis, dan agama.

Kampung kapitan merupakan beberapa kelompok bangunan rumah panggung ala china, yang terletak di kelurahan tujuh ulu, kecamatan seberang ulu satu, palembang. kampung kapitan adalah sebuah perkampungan yang didirikan oleh sekelompok orang pendatang dari china.


Bangsa china masuk ke palembang diperkirakan pada masa peralihan kerajaan sriwijaya-kesultanan palembang darusalam, antara tahun seribu lima ratus, hingga seribu tujuh ratus masehi.

Pada masa kesultanan palembang, penduduk pendatang asing, seperti cina, india, tambi, dan etnik lainnya, tidak diperkenankan untuk tinggal di daratan. yang diperkenankan hanyalah orang pribumi, atau penduduk asli. namun, sekitar tahun seribu tujuh ratus, mengingat jasa terhadap perdagangan yang menjadikan perekonomian palembang maju pesat, maka beberapa dari penduduk timur asing , termasuk cina, diberikan kebebasan untuk dapat bertempat tinggal di daratan. dan karena masyarakat etnis cina cepat beradaptasi dengan penduduk setempat, maka terjadilah perkawinan antara pribumi dengan orang china, khususnya dengan para wanita pribumi.


Setelah masa kesultananan palembang berakhir, pada tahun seribu delapan ratus dua puluh tiga, maka bentuk awal pemerintahan belanda masih mempergunakan para bangsawan palembang, untuk memerintah. orang yang diberi suatu kekuasaan untuk memimpin suatu daerah oleh pemerintah hindia-belanda pada masa itu disebut kapitan. sebagai kelengkapan alat pemerintahan, maka di setiap kelompok etnis diangkat seorang mayor, kapitan, atau letnan , yang diberi suatu kebebasan untuk mengatur pemerintahan sendiri , dengan cara memberi upeti kepada pemerintah hindia-belanda.


Untuk kelompok etnis tionghoa atau cina, diangkat pertama kali seorang mayor pada tahun seribu delapan ratus tiga puluh, mayor ini dikenal dengan nama coa ki cuan, yang merupakan ayah dari kapitan coa ham hin. kapitan coa ham hin adalah pemimpin masyarakat pada masa keresidenan palembang, yang mendapat jabatan sekitar tahun seribu delapan ratus lima puluh lima.

Masyarakat di kampung kapitan hidup dengan rukun, Mengapa kampung ini dinamakan kampung kapitan, ini dikarenakan disini terdapat sebuah rumah, yang dahulu ditinggali oleh kapitan

Awalnya, rumah kapitan berukuran dua puluh dua kali dua puluh lima meter. kemudian, keturunan kapitan, yang menjadi ahli waris rumah itu, membuat bangunan tambahan di bagian belakang , sehingga ukuran panjangnya menjadi lima puluh meter.

Bapak kohar merupakan keturunan ke dua belas dari kapitan coa ham hin

Di sebelah bangunan rumah kapitan, terdapat rumah besar lainnya, yang disebut sebagai rumah abu. rumah ini berukuran lima puluh kali dua puluh lima meter.

Rumah kapitan merupakan bukti hubungan yang dibangun oleh masyarakat tionghoa, dalam hal ini pemimpin mereka, terhadap pemerintah kolonial belanda. kolom penyangga bagian teras depan pada rumah pertama berbahan kayu, bertransformasi menjadi sebuah kolom bata dengan style klasik eropa, walau dengan proporsi lebih kecil.

Bagian ini disebut juga courtyard, yaitu suatu ruang terbuka, yang berguna bagi penghawaan , dan masuknya cahaya. ini menunjukkan bahwa, walaupun rumah ini mengadopsi bentuk rumah limas, akan tetapi denah rumah tersebut masih mengadopsi tipologi rumah masyarakat tionghoa.

Bangunan ini masih menampakkan keasliannya, demikian juga bagian atap yang memakai genting buluh, atau bambu. pintu-pintu yang ada di bangunan ini, terlihat tinggi dan kokoh.

Ruang ini disebut ruang induk, berisi meja sembahyang dan foto-foto para kapitan. dalam kehidupan sehari-hari pun mereka mencoba berinteraksi secara aktif terhadap penjajah belanda, yaitu dengan penggunaan jas, yang merupakan pakaian masyarakat eropa. penggunaan elemen yang menjadi ciri orang eropa, dimaksudkan sebagai identitas bahwa mereka mempunyai relasi yang cukup dekat dengan pemerintah belanda.

Antara rumah kapitan dan rumah abu, dihubungkan dengan sebuah jembatan kayu, yang terdapat di bagian depan, dan bagian tengah rumah.

Walaupun sama-sama beratap limas, rumah kapitan dan rumah abu berbeda dalam bentuk arsitekturnya. rumah kapitan berasitektur cina-melayu, sedangkan rumah abu telah mendapat sentuhan arsitektur belanda. ini terlihat pada bagian pilar depan rumah yang terbuat dari beton berbentuk silinder, menggembung di bagian tengahnya.


Pintu-pintu yang ada di rumah abu sedikit lebih rendah dibandingkan dengan rumah kapitan. selain itu, tangga yang ada di rumah abu terbuat dari batu, sedangkan tangga yang ada di rumah kapitan, terbuat dari kayu.


Secara spesifik, pemukiman etnis china tersebar di daerah seberang ilir dan seberang ulu. walaupun demikian yang kemudian terkenal dengan china town adalah kampung kapiten di tujuh ulu. pola pemukiman tampak jelas , serta membentuk ruang terbuka dibagian tengah. legam arsitektur di kawasan pecinan tersebut dipengaruhi oleh arsitektur palembang, cina dan belanda.

Sebelum mempunyai kedudukan sebagai kapitan, para pendatang dari tionghoa membaur dengan masyarakat asli palembang, bahkan sampai menikah dengan penduduk setempat. banyak warga keturunan china , terutama dari keluarga besar kapitan, yang menikah dengan pribumi.

Untuk dapat diketahui, masyarakat yang tinggal di kampung kapitan, bukan hanya masyarakat etnis china, akan tetapi mereka dapat hidup dengan rukun dan damai.


Rumah kapitan dibangun pada akhir masa pemerintahan kesultanan palembang, yang pada masa itu masyarakat tionghoa diberi kesempatan untuk membangun rumah di darat , tidak lagi menghuni rumah-rumah rakit diatas sungai musi. namun walau sudah ‘mendarat’, tapi kedudukan mereka tetap pada seberang ulu yang keadaan tanahnya berawa tiap tahunnya.


Pada masa pemerintahan kolonial belanda, masyarakat tionghoa mengalami perubahan dari masyarakat yang diawasi, menjadi masyarakat yang berkedudukan istimewa. hal ini juga nampak pada huniannya.

Menelusuri kampung kapitan, mengingatkan kembali akan kemegahan sejarah leluhur. masyarakat hidup saling bahu membahu, tanpa memandang agama, ras, atau etnis. sebuah perasaan kebersamaan, yang jarang kita temui di tengah hiruk-pikuk kota palembang.

Label:

Minggu, 09 November 2008

RUMAH GUDANG




Kota palembang, dikenal kaya akan keragaman budaya dan kehidupan masyarakatnya, terutama bagi mereka yang tinggal di sekitar sungai musi. keanekaragaman khasanah kebudayaan sriwijaya, masih tampak jelas dari berbagai macam bentuk bangunan yang berada di kawasan permukiman masyarakat perairan sungai musi. bentuk rumah pemukiman pada kawasan ini pada umumnya merupakan rumah panggung yang didirikan diatas tonggak kayu, atau biasa disebut juga dengan rumah gudang. hal ini dapat dimaklumi, karena awal mula berdirinya rumah gudang itu sendiri muncul setelah era kolonial. berbeda dengan keberadaan rumah rakit, rumah limas palembang, atau rumah panggung etnis cina, yang keberadaanya jauh sebelum masa itu.

Rumah gudang lebih diminati oleh masyarakat perairan sungai musi , dibandingkan bentuk-bentuk permukiman lainnya, karena lebih efisien dari segi perawatan, dan tidak ada ketentuan khusus mengenai bentuk rumah.

Walaupun rumah gudang dan rumah limas sama-sama merupakan rumah panggung yang didirikan diatas tonggak kayu, akan tetapi lantai rumah gudang tidak bertingkat atau berkijing, seperti hal nya rumah limas.

Bentuk rumah gudang pada dasarnya lebih dipengaruhi oleh keinginan pemiliknya, demikian pula halnya dengan kebutuhan ruang dan tata letak bangunnya. pada umumnya rumah gudang pada pemukiman masyarakat perairan sungai musi, memakai bahan bangunan dari kayu, dan berdiri diatas tiang-tiang pancang kayu. hal ini untuk mengantisipasi pasang surut air sungai, agar tidak masuk ke dalam rumah. karena itulah bentuk rumah gudang dapat lebih mudah kita jumpai pada pemukiman masyarakat yang tinggal di pinggiran sungai.

Menurut sejarahnya, rumah tradisional palembang yang pertama adalah rumah rakit. hal ini dikarenakan pada zaman dahulu palembang merupakan daerah yang banyak digenangi air, atau daerah rawa. palembang memiliki sungai-sungai dan memiliki induk sungai yang disebut sungai musi. sungai tersebut dimanfaatkan sebagai jalur transportasi antar sesama penduduk.

Diantara masyarakat palembang yang tinggal di rumah rakit, ada yang menjadi penguasa, atau orang yang dihormati. penguasa tersebut membangun rumah di daerah daratan dan di tepi sungai. bentuk rumah yang dibangun oleh penguasa tersebut adalah berbentuk atap limas dan lantai rumah memiliki perbedaan ketinggian lantai, atau kekijing. perbedaan ketinggian lantai bangunan ini timbul karena adanya konsep makro-mikro kosmos, yang mengartikan tentang penguasaan atau adanya perbedaan derajat atau kedudukan dalam masyarakat. pada bagian lantai yang tinggi adalah yang mereka hormati.

Dengan berkembangnya pembangunan di palembang dan kemudian menjadi kota perdagangan, maka timbul suatu paham atau aliran baru yang menentang konsep makro-mikro kosmos. ditentangnya paham tersebut dikarenakan masyarakat tidak setuju akan adanya perbedaan kekuasaan dalam masyarakat, sehingga masyarakat dapat tinggal di daerah tepian sungai dan daerah barat. pertentangan ini bukan hanya dalam hal tempat tinggal saja, melainkan juga dalam hal arsitektur rumah limas. dengan adanya konsep makro-mikro kosmos pada rumah limas, diubah dengan membuat satu konsep yang baru, yaitu konsep ke-tuhanan yang maha esa. konsep ini ditandai dengan pembangunan rumah limas yang tidak memiliki bengkilas. konsep ini sudah memakai prinsip, bahwa di mata tuhan, manusia memiliki kedudukan yang sama.

Timbulnya rumah limas tanpa bengkilas tidak sampai disitu saja. masyarakat banyak yang merasa tidak mampu untuk membangun rumah dengan bentuk rumah limas. selain pembuatan atap yang cukup rumit, juga karena biaya pembuatan rumah dengan atap limas sangat mahal. oleh karena itu, maka timbul bangunan yang memiliki bentuk polos, atau bentuk kotak empat persegi panjang. karena kesederhanaan bentuk rumah dan kemudahan dalam pembangunannya, maka rumah ini disebut rumah cara gudang, yang sekarang kerap disebut rumah gudang.

Salah satu rumah gudang yang terdapat di pinggir sungai musi, adalah rumah milik bapak haji………. sekarang rumah ini di tinggali oleh salah seorang keturunannya.

Ciri khas dari rumah panggung ini adalah atap secara umum berbentuk perisai dengan bahan bervariasi, yaitu genteng dan seng. selain itu pada bagian paling depan, terdapat teras, sebagai ruang transisi setelah naik tangga sebelum memasuki rumah. letak dan bentuk teras berbeda-beda antara rumah dengan yang lainnya, tergantung dari keinginan pemiliknya.

Ruang ini disebut ruang utama, tempat pemilik rumah biasa menerima tamu, atau tempat diadakannya berbagai macam kegiatan atau perayaan-perayaan.

Seperti hal nya rumah limas, dinding dan pintu rumah gudang umumnya dilengkapi dengan ukiran atau hiasan, yang mengisyaratkan bahwa masyarakat palembang mempunyai daya seni yang cukup tinggi akan keindahan.

Ruang belakang terdiri dari sebuah kamar, dapur, dan ruang dalam. sama halnya dengan kamar yang ada pada rumah limas, kamar ini diperuntukkan bagi kepala keluarga sebelum keluarga tersebut mempunyai anak perempuan yang dewasa. tetapi bila anak perempuannya telah dewasa maka kamar itu akan ditempatkan oleh anak gadis tersebut.

Rumah gudang sudah banyak yang tidak berorientasi ke arah sungai. perubahan tersebut terjadi akibat adanya jalan darat , yang mana sebelumnya jalan tersebut banyak dibangun oleh bangsa belanda. akibat adanya jalan darat tersebut, maka banyak rumah gudang yang mengorientasikan bangunannya kearah jalan.

Rumah gudang limas merupakan sebuah rumah,yang pembagian ruangannya sama seperti rumah limas, akan tetapi tidak mempunyai bengkilas, seperti hal nya rumah limas.


Berkat adanya pembangunan jalan darat, maka masyarakat yang sebelumnya memanfaatkan sungai sebagai jalur transportasi dan tempat untuk beraktifitas, kini telah berpikir kearah yang lebih modern, yaitu memanfaatkan mobil, motor atau sarana di darat untuk dimanfaatkan menjadi alat transportasinya.


Rumah gudang ini memiliki denah berbentuk persegi panjang. memanjang dari depan ke belakang. denah dari rumah gudang ini memiliki tiga susunan ruang. susunan tersebut terdiri dari ruang depan, ruang tengah, dan ruang belakang.


Pada bagian depan rumah lebih banyak terdapat bukaan, atau jendela dengan bentuk yang sama yang berbentuk persegi panjang. jendela ini berjarak antara delapan puluh hingga seratus sentimeter dari lantai bagian dalam rumah.

Apabila ada arakan atau kenduri terutama pada acara kesenian, ruang ini dimanfaatkan untuk tempat istirahat. demikian pula halnya jika ada sedekah, tempat ini dipakai oleh para petugas pelaksana persedekahan yang terdiri dari kaum kerabat, atau keluarga terdekat dari empunya rumah.

Ruang tengah merupakan ruang utama dari bangunan rumah gudang. ruangan ini digunakan sebagai tempat menerima para tamu atau undangan pada upacara adat atau persedekahan. para undangan yang dianggap terhormat atau para tamu yang lebih tua, ditempatkan di bagian barat dari ruangan tersebut atau pada arah dinding bagian dalam.

Ruang belakang terdiri dari sebuah kamar, dapur, dan ruang dalam. sama halnya dengan kamar yang ada pada rumah limas, kamar ini diperuntukkan bagi kepala keluarga sebelum keluarga tersebut mempunyai anak perempuan yang dewasa. tetapi bila anak perempuannya telah dewasa maka kamar itu akan ditempatkan oleh anak gadis tersebut.

Bagian bawah daripada rumah gudang, sekarang dimanfaatkan oleh keturunan pemilik terdahulu, dengan cara penambahan ruangan, ataupun dijadikan tempat ternak.

Pemikiran sebagian masyarakat yang semakin berkembang membuat pendirian rumah gudang ini tidak lagi mengikuti tradisi bangunan tradisional palembang. pendirian rumah tradisional kearah sungai, yang menjadi sebuah kebiasaan, lama kelamaan menjadi mitos yang timbul di masyarakat palembang. sebagian masyarakat tetap menjalankan aturan aturan tradisi hanya karena untuk menghormati tradisi tersebut. demikian halnya dalam orientasi rumah gudang di palembang. pengorientasian bangunan kearah sungai dibuat hanya untuk mengikuti orientasi bangunan rumah tinggalnya ke arah sungai, dan ada juga yang beranggapan bahwa air adalah sumber kehidupan. seiring dengan perkembangan zaman, pemikiran tradisional tersebut saat ini tidak lagi terlalu dihiraukan masyarakat. sehingga sekarang terlihat banyak masyarakat palembang yang mengorientasikan bangunan ke arah jalan darat.

Label:

KAMPUNG ARAB






KANPUNG ARAB
SEBUAH DAERAH YANG AKAN DI GUSUR UNTUK MEMBANGUN JEMBATAN MUSI III

Perkampungan arab ini berada di kelurahan tiga belas ulu, kecamatan seberang ulu dua palembang. secara geografis, perkampungan arab ini terletak di tepi sebelah selatan sungai musi, sebelah timur sungai ketemenggungan, serta di sebelah barat sungai kang-kang. suku-suku yang mendiami kampung ini sebagian besar adalah suku al-munawar, yang juga merupakan nama lorong masuk utama perkampungan ini. selain suku al-munawar, terdapat juga beberapa suku lainnya, seperti suku al-habsyi, al-hadad, dan al-kaf.

Rumah-rumah yang berada di lorong al-munawar merupakan bangunan rumah dengan gaya arsitektur yang khas pada zamannya, yaitu rumah limas, rumah panggung, indies, dan gabungan antara rumah panggung dan indies.

Bentuk rumah yang ada di perkampungan ini hampir semuanya berbentuk rumah panggung. sebagai bahan konstruksi, sebagian rumah menggunakan bahan kayu unglen, dan sebagian lagi menggunakan batu.

Hubungan nusantara dengan timur tengah melibatkan sejarah yang panjang, karena telah terjadi sejak sebelum agama islam masuk ke wilayah ini. beberapa negara yang melakukan hubungan perdagangan di nusantara yaitu arab, persia, india, dan cina. kapal-kapal arab yang melakukan perdagangan ke cina, ternyata juga menyinggahi pelabuhan-pelabuhan yang ada di nusantara, termasuk palembang. letak posisi geografis palembang diantara jalur pelayaran arab, persia, india menuju cina, dan sebaliknya. hal ini menjadikan palembang sebagai daerah yang amat strategis. selain itu juga, banyaknya komoditi dagang yang ada di bandar-bandar sungai musi dan anak-anak sungainya, turut mendukung kelancaran arus barang, dari daerah pedalaman, ke daerah pesisir.

Berita mengenai kehadiran muslim timur tengah, yang kebanyakan arab dan persia di nusantara pada masa itu, pertama kali disampaikan oleh pengembara tekenal china, yang bernama i-tsing. berita mengenai kehadiran muslim ini didapatnya ketika ia menumpang kapal arab dan persia dari kanton, pada tahun lima puluh satu hijriyah, atau tepatnya enam ratus tujuh puluh satu masehi. dalam pelayarannya, i-tsing berlabuh di pelabuhan muara sungai bhoga, atau sribhoga, yang sekarang bernama sungai musi, yang menurut indentifikasi para pakar sejarah dan arkeologi, merupakan kota palembang, yang pada saat itu menjadi pusat ibukota kerajaan sriwijaya.

Orang arab pada masa kesultanan palembang memiliki peranan yang cukup penting. pada saat itu, mereka berperan sebagai pedagang perantara, sebagaimana halnya orang china yang mengurus barang-barang yang keluar – masuk, untuk kepentingan ekonomi kerajaan. bahkan orang arab, menurut sevenhoven, menguasai perdagangan kain linen, dan kepemilikan kapal angkutan.

Yang menarik dari rumah-rumah kuno tersebut adalah adanya berbagai istilah rumah, sebagai identitas dan pembeda antara satu rumah dengan rumah lainnya, diantara adalah rumah darat, rumah batu, rumah tinggi, rumah kembar darat, rumah kembar laut, dan rumah tengah.

Penamaan rumah-rumah tersebut didasarkan pada keletakkannya terhadap sungai musi, dan bahan yang digunakan untuk pembangunannya.

Contohnya rumah ini, rumah ini disebut rumah darat. dinamakan rumah darat, karena terletak jauh dari tepian sungai musi, dan terletak tepat di depan rumah tinggi.

Rumah darat merupakan bangunan rumah limas, dimana didalamnya terdapat perbedaan tinggi lantai, atau biasa disebut kekijing.

Bentuk arsitektur rumah ini adalah limas, dan mempunyai garang pada awal pendiriannya. namun seiring dengan perkembangan jumlah penghuni, maka garang tersebut kemudian dihilangkan, dan bagian ini dipisah, sehingga membentuk rumah lain yang mandiri. pemisahan ini terjadi sekitar awal abad ke dua puluh.

Di bagian tengah ruangan, terdapat ruang penghawaan, yang berguna bagi penghawaan. ruang ini juga digunakan untuk bersantai, dan melakukan aktifitas lainnya.

Rumah tinggi merupakan rumah yang didirikan pada tahun seribu delapan ratus tujuh puluh lima masehi, oleh al habib abdurrahman. rumah ini berarsitektur rumah limas, dan berbentuk rumah panggung, namun, ketinggian tiangnya lebih tinggi dari rumah- rumah limas lainnya yang ada di sekitarnya pada saat itu. oleh karena itu, rumah ini secara turun temurun disebut dengan rumah tinggi.

Konstruksi bangunannya menggunakan konstruksi kayu, yaitu bangunan yang konstruksi utamanya adalah rangka yang menyangga bagian atap yang bahannya dari kayu.

Yang membedakan rumah darat dengan rumah tinggi adalah bentuk dan keletakan tangga naiknya. rumah darat tangganya terletak di kanan dan kiri rumah, dan seluruhnya terbuat dari kayu, jadi merupakan bentuk asli rumah limas palembang. sementara tangga naik rumah darat diletakkan di bagian tengah dan terbuat dari batu.

Sebagian rumah tua di kampung ini, bahkan telah menggunakan batu marmer sebagai lantai. bahkan, marmer ini tidak hanya dipasang di lantai rumah berukuran sekitar dua puluh kali tiga puluh meter ini saja. marmer – marmer ini, konon didatangkan khusus dari italia, berbentuk bujur sangkar lima puluh kali lima puluh centimeter, dan dipasang hingga ke teras.

Rumah batu mendapat julukan seperti ini, karena bangunannya menggunakan kontruksi batu. rumah ini kemungkinan merupakan rumah pertama di palembang yang didirikan dengan menggunakan pondasi batu, dan tidak berbentuk panggung. lebih dari itu, rumah ini mencirikan arsitektur indies yang kental. penggunaan lantai marmer, ubin-ubin bermotif flora, ukuran jendela dan pintu yang besar, dan berbentuk masif, merupakan ciri utamanya. begitupun dengan bentuk atap rumahnya. kontruksi bangunannya merupakan kontruksi susunan batu, ialah bangunan yang mempunyai kontruksi utama dinding penahan beban yang menahan bagian atap atau kepalanya, yang disusun diatas suatu pondasi dengan bahan yang sama, yakni batu alam.

Diantara rumah kembar darat dan rumah tinggi, terdapat rumah tengah. rumah tengah sebenarnya merupakan rumah tingkat arab, karena rumah ini disusun bertingkat dan bentuk arsitektur rumah ini merupakan perpaduan antara rumah limas dan indies, dan dibangn dengan menggunakan kontruksi campuran antara kayu dan batu.

Rumah kembar darat terdiri dari dua buah rumah yang berdiri saling berhadapan, dan dipisahkan oleh sebuah halaman di bagian depannya. gaya arsitekturnya adalah indies.

Rumah kembar laut merupakan rumah dua rumah yang dibangun berdampingan, dan terletak di pinggir sungai musi. karena kebanyakan orang dahulu sering menyebut sungai sebagai laut, maka rumah ini disebut rumah kembar laut.

Berdasarkan kronologi pendiriannya, tipe bangunan yang tertua adalah tipe limas, sedangkan tipe-tipe bangunan yang lain memiliki kronologi pendirian yang relatif sama.

Dilihat dari penerapan ragam hias pada bangunan tipe limas, diketahui bangunan tipe ini juga tetap didirikan pada masa- masa selanjutnya, dengan kata lain, meskipun pada masa-masa selanjutnya tengah berkembang tipe bangunan baru, tetapi tipe bangunan limas masih tetap dipertahankan. tipe bangunan limas yang didirikan pada masa yang lebih muda dapat dilihat pada penerapan ragam hiasnya, yaitu yang mendapat pengaruh ragam hias eropa. berdasarkan teknologi pembuatan juga dapat dilihat bahwa ragam hias pada bangunan tipe limas yang lebih tua berupa ukiran terawangan, sedangkan pada bangunan tipe limas yang lebih muda bukan berupa ukiran terawang, dan diukirkan pada satu papan kayu utuh.

Pada prinsipnya bangunan rumah kuno diwilayah seberang ulu, kotamadya palembang berkontruksi rumah panggung. kontruksi itu merupakan hasil penyesuaian dengan lingkungan wilayah tersebut, yang sebagian besar tergenang oleh air. begitupula dengan bangunan tempat ibadah, yang dibangun dengan pondasi di tanah. dibandingkan dengan tanah di sekitarnya, tanah tempat dibangunnya tempat ibadah lebih tinggi, baik karena alamai maupun karena ditimbun. pemilihan dan pengolahan lokasi yang demikian dimaksudkan untuk menghindarkan bangunan tempat ibadah tersebut dari genangan air.

Sejak abad ke tujuh masehi, kota palembang sudah menjadi daerah metropolis, terbukti dengan masuknya berbagai pedagang asing, seperti arab, persia, india, dan cina. hal ini membuktikan bahwa sejak awal pun palembang telah menjadi daerah terbuka, terhadap pengaruh asing, dan menjadi tempat berkumpul para pedagang asing.

Mempertahankan warisan budaya pada dasarnya juga merupakan bagian dari pembangunan, karena itu, diperlukan kesamaan konsep dalam pengelolaan warisan budaya tersebut. stereotipe bahwa bangunan kuno merupakan warisan bangsa penjajah sudah seharusnya dihapus, karena bangunan kuno tersebut merupakan saksi sejarah yang harus dilindungi, yang merupakan bagian dari perjalan budaya bangsa. sehingga meskipun berada di daerah yang strategis, bangunan tersebut tidak akan dikorbankan dengan alasan pembangunan.

Berdasarkan nilai penting sejarah dan ilmu pengetahuan, maka dapat dikatakan bahwa situs-situs pemukiman kelompok etnis arab merupakan situs yang sangat penting dalam sejarah perkembangan kota palembang. melihat masih aslinya adat dan kebiasaan, serta keberadaan peninggalan arkeologi yang memiliki ciri tersendiri, situs-situs tersebut dapat dimanfaatkan sebagai objek-objek penelitian, maupun objek wisata budaya.

RUMAH ASSEGAFF KAMPUNG ARAB
Memasuki gerbang dan melewati jalan setapak seluas lima meter ini, mengantarkan kita pada sebuah kompleks kecil, Kompleks perumahan keluarga Assegaf. Yah, episode Warisan kali ini, kita akan melihat beberapa bangunan tua yang ada di Kompleks perumahan keluarga Assegaff, di wilayah Kelurahan enam belas ulu, kecamatan Seberang ulu dua , Palembang.
Kompleks Perumahan Keluarga Assegaff merupakan salah satu perkampungan Arab yang tumbuh dan berkembang di kawasan Seberang ulu, pada akhir abad ke sembilan belas, menjelang awal abad ke dua puluh. Pendirinya adalah Habib Alwi Al-Habsyi.
Suasana tenang dapat kita rasakan saat memasuki perkampungan kecil ini.
Berlatar belakang Sungai Musi dengan kapal – Kapal besar yang melintas, sebuah bingkai kehidupan yang membawa kenyamanan.
Sebelum melanjutkan melihat-lihat Pabrik Es Assegaff, saya tertarik melihat sebuah mesin penghitung kuno, dari masa pemerintahan Belanda . Cara penggunaan mesin ini cukup unik, hingga kini masih digunakan oleh karyawan Pabrik es assegaff, untuk menghitung pembiayaan.
Bangunan berasitektur Belanda ini didirikan seiring perkembangan perkampungan Assegaff, pada tahun seribu sembilan ratus dua puluh sembilan. Pabrik yang kedua didirikan bersebelahan, pada tahun seribu sembilan ratus tiga puluh dua. Pabrik es yang hingga kini balok es-nya dimanfaatkan oleh para pedagang ikan yang membeli ikan di kawasan Sungsang, Bangka, dan Belitung ini semakin berkembang dengan penambahan pabrik baru pada tahun seribu sembilan ratus tujuh puluh empat.
Nah, sekarang kita melihat sebuah rumah panggung yang merupakan rumah paling tua di kompleks ini, biasa di kenal dengan rumah besar. Yah…, rumah ini memang sangat besar, biasa menjadi tempat diselenggarakannya acara-acara penting.
Musholah Assegaff terletak berseberangan dengan rumah besar. Diyakini, musholah Assegaff didirikan hampir bersamaan dengan perkembangan awal perkampungan. Bentuknya sekarang telah mengalami banyak perubahan. Hal ini dikarenakan musibah yang terjadi sekitar tahun seribu sembilan ratus enam pukuh sembilan.
Kala itu, sebuah kapal laut Rusia menabrak masjid yang sebagian badannya berada di Sungai Musi. Beberapa tahun setelah peristiwa itu, musholah Assegaf direhabilitasi dengan bentuk dan bahan yang lebih permanent.

Label:

Rumah Rakit



Apabila kita berlayar di sungai-sungai di wilayah palembang, di kiri dan kanan sungai tampak rumah-rumah tinggal yang terbuat dari kayu. rumah-rumah ini merupakan rumah yang dibangun di atas tiang yang ditancapkan di tepian sungai. selain itu juga terdapat rumah-rumah rakit yang ditambatkan di tepian sungai. di sungai tersebut berhilir mudik perahu dan lancang yang mengangkut orang, sayur-mayur dan barang-barang kebutuhan sehari-hari, termasuk juga barang tembikar dari daerah penghasilnya di daerah sungai komering , di kayu agung. gambaran kesibukan lalu lintas sungai seperti ini sudah berlangsung sejak lama.

Kegiatan bermukim berasal dari kata mukim , yang berarti diam,atau berdiam di suatu tempat. pemukiman merupakan kumpulan beberapa pemukim, hingga berkembang menjadi ratusan bahkan ribuan pemukim.

Pemilihan tempat bermukim biasanya selain atas pertimbangan keamanan, juga kondisinya memungkinkan untuk mendirikan pemukiman, serta berdasarkan tersedianya atau dekat dengan sumber daya alam yang dapat dimanfaatkan untuk kelangsungan hidup. pemukiman tepi sungai merupakan salah satu bentuk interaksi manusia dengan alamnya, yang pada awalnya dipilih berdasarkan pertimbangan pemanfaatan lingkungan.

Khusus di daerah sumatera, seperti yang terdapat di jambi dan sumatera selatan, faktor pertanian sawah basah bukan merupakan faktor yang paling dominan dalam pemilihan lokasi di tepi sungai. sungai pada masa lalu merupakan sarana transportasi utama untuk membawa hasil bumi dari wilayah hulu sungai, terutama yang dikenalnya damar, kapur barus, dan rempah-rempah, yang merupakan komoditi dagang potensial , selain hasil bumi lainnya berupa hasil pertanian, kayu hutan, dan buah-buahan.

Daerah tepi sungai merupakan salah satu bentuk pilihan lokasi pemukiman yang pada umumnya merupakan pemukiman tradisional. pemukiman tepi sungai di palembang memiliki sejarah panjang di indonesia. berdasarkan sejarah dan hasil temuan arkeologis, bukti-bukti tentang adanya kegiatan bermukim di wilayah ini telah ada sejak abad ke enam masehi.

Dalam berita china yang berasal dari abad ke tiga belas masehi diceritakan keadaan kota sriwijaya, atau san fo si, yang penduduknya tinggal di tepian sungai. disebutkan bahwa rumah-rumah tinggal di kota ini, yang dibangun di tepian sungai, merupakan rumah-rumah panggung , atau rumah-rumah rakit, beratap rumbia yang ditambatkan di tepian sungai. penduduknya mahir berperang baik di darat maupun di air.

Menurut catatan musafir china yang bernama ma-huan , juga fei xin saat berkunjung ke palembang pada tahun seribu empat ratus enam belas, menceritakan bahwa di palembang banyak airnya, tetapi tanahnya sedikit. para pemuka masyarakat tinggal di darat, sedangkan rakyat kebanyakan berumah di rakit yang tertambat pada tonggak di tepi sungai. walaupun setiap hari air pasang pada pagi dan malam hari, orang yang berumah di rakit tak terganggu oleh pasang surutnya air, sehingga penghuninya hidup tentram dan juga dengan mudah memindahkan rumah dengan cara melepas tambat rakitnya.

Pada masa kesultanan hingga kolonial dan masa kemerdekaan, pemukiman penduduk di koat palembang berkembang , dan terpusat di tepi sungai musi terutama di tepi bagian utara. pada masa kesultanan terdapat peraturan yang mengatur tentang kepemilikan dan penggunaan lahan. oleh karena palembang terletak di dataran rendah yang berawa-rawa dan dialiri oleh banyak anak sungai sehingga hanya pada bagian-bagiantertentu terdapat tanah-tanah tinggi dan padat, maka pembagian lahan serta letak permukiman pun diatur berdasarkan status sosial dan mata pencaharian masyarakat masa itu.

Selain kondisi lahan yang kurang memadai, palembang merupakan kota kuno yang berkembang pesat di masa kesultanan palembang dan banyak dipengaruhi oleh kebudayaan jawa, sehingga seperti kota-kota islam kuno lainnyadi nusantara, palembang pada masa kesultanan memiliki pola penataan kota tersendiri.

Ibukota palembang dialiri banyak sungai, yang kemudian bermuara di sungai musi. hal ini menyebabkan palembang mendapat julukan kota dua puluh pulau, dan kota seratus sungai.

Mata pencaharian penduduk palembang umumnya berdagang. berdasarkan catatan sevenhoeven, palembang pada masa kesultanan tidak terdapat pasar umum, para pedagang melakukan transaksi dagang diatas sungai dengan menggunakan perahu-perahu mereka. para pedagang pribumi umumnya berdagang hasil bumi yang mereka dapat dari hasil perkebunan ataupun yang mereka kumpulkan dari hutan atau sungai. selain itu mereka , terutama orang palembang asli juga menjual hasil kerajinan rakyat yang terbuat dari rotan, tembikar, logam, dan kain tenun sutra, songket. para pedagang asing yang datang ke palembang terdiri dari orang china, arab, eropa, siam, malabar, dan pedagang dari wilayah lain di nusantara seperti dari maluku, jawa, bugis, dan aceh.

Gambaran kota palembang masa lampau itu menunjukkan adanya kesamaan dengan masa sekarang, yakni bahwa orang palembang gemar tinggal di tepian sungai. sungai merupakan jalur transportasi penting sejak dulu hingga sekarang. melalui sungai ini, orang membawa berbagai jenis barang komoditi dari dan ke daerah hulu, serta dari dan ke daerah luar palembang. dengan gambaran seperti itu, kita dapat menyimpulkan bahwa palembang adalah kota air.

Label:

Sabtu, 08 November 2008

RUMAH LIMAS



RUMAH LIMAS

Rumah limas merupakan salah satu peninggalan kebudayaan dari kerajaan Sriwijaya, mulai dikenal masyarakat sebagai rumah tradisional, sejak jaman Kesultanan Palembang Darusalam.

Perpaduan budaya Melayu dan Jawa, menjadi ke – khasan yang dimiliki oleh kota Palembang sejak dahulu, dan diakui telah menjadi citra budaya masyarakat setempat. cerminan hubungan budaya melayu dengan jawa, dalam kehidupan masyarakat palembang dapat dilihat dari beberapa aspek kehidupan masyarakat palembang, salah satunya bangunan tradisional , atau rumah limas.

Pada mulanya, fungsi rumah limas adalah sebagai tempat kediaman bangsawan atau golongan priayi. rumah limas dibuat seperti rumah panggung, hal ini dikarenakan kondisi lahan di palembang pada saat itu merupakan daerah yang cenderung digenangi air, disebabkan di kota palembang banyak terdapat anak-anak sungai musi , yang berada di dalam kota.

Sebelum masa kolonial, rumah limas ini orientasinya ke sungai, akan tetapi setelah kolonial membangun jalan, maka rumah limas menghadap ke ruas jalan.

Atap rumah limas berbentuk piramida terpenggal, dengan sudut kemiringan atap utama antara 45 derajat hingga 60 derajat, dan kemiringan atap pada bagian depan antara 10 derajat, hingga 20 derajat.

Di bagian atas atap limas terdapat ornamen berupa simbar dan tanduk. simbar diartikan sebagai mahkota rumah dengan hiasan bunga melati, yang melambangkan kerukunan dan keagungan rumah adat limas tersebut . sedangkan tanduk berfungsi sebagai penghias atap , namun jumlah tanduk tersebut mempunyai arti tersendiri, biasanya disebut tanduk kambing . beberapa sumber mengatakan bahwa jumlah tanduk kambing menunjukkan tingkat sosial, atau derajat kebangsawanan dari si pemilik rumah.

Sebelum memasuki rumah limas, kita akan menjumpai garang, yang sering juga disebut sebagai beranda. garang merupakan ruang transisi antara tangga dengan pagar tenggalung. pagar tenggalung merupakan ruang paling depan dari rumah limas, yang berfungsi sebagai ruang tamu.

Menurut bapak johan hanafiah, rumah limas dapat dicirikan sebagai berikut :
- Atapnya berbentuk limas
- Badan rumah berdinding papan , dengan pembagian ruangan yang telah ditetapkan,standar, serta lantai runah yang bertingkat-tingkat atau keejing
- Keseluruhan atap dan dinding serta lantai rumah bertopang atas tiang-tiang yang tertanam di tanah
- Mempunyai ornamen dan ukiran yang menonjolkan kharisma dan identitas rumah tersebut

Dinding dan pintu rumah limas umumnya dilengkapi dengan ukiran atau hiasan , yang mengisyaratkan bahwa masyarakat palembang mempunyai daya seni yang cukup tinggi akan keindahan.

Pak Mir Senen
Bercerita tentang susunan rumah limas
Bercerita tentang ukiran-ukiran
Bercerita tentang mengapa rumah limas tidak terdapat bangku

Lantai bertingkat, atau kekejing yang menjadi ciri khas rumah limas, biasanya terdiri dari tiga hingga lima buah. tingkatan paling tinggi biasanya akan menjadi tempat bagi tamu dari kalangan bangsawan, sedangkan tingkatan terendah diperuntukkan bagi rakyat biasa.

Dari segi denah bangunan, lantai rumah limas palembang mempunyai tingkatan perbedaan lantai yang disebut bengkilas. dalam ruang bengkilas inilah para tamu duduk menurut derajat kehidupan serta martabat masing-masing.

Terdapat beberapa pendapat yang berkaitan dengan fungsi bengkilas. pendapat yang pertama mengatakan bahwa pada perayaan upacara adat atau kegiatan perkawinan, orang yang boleh duduk di bengkilas diatur menurut gelar kebangsawanan dalam adat palembang, misalnya golongan raden boleh duduk di bengkilas pocook, golongan masagus duduk di bengkilas tengah, golongan kemas duduk pada lantai bengkilas di bawah masagus, dan golongan kibagus duduk di bengkilas bawah. sedangkan golongan rakyat , duduk di bagian luar. hal ini disesuaikan dengan budaya kraton, atau bangsawan pada masa kesultanan palembang, yang terdapat perbedaan derajat kedudukan di dalam masyarakat palembang.

Pendapat lain mengatakan bahwa tingkatan lantai bengkilas tersebut tidak mengacu pada gelar kebangsawanan seseorang, tetapi lebih mengacu pada tingkat kehidupan seseorang antara tua dan yang muda , dalam suatu masyarakat. dalam artian, bengkilas poocok hanya boleh diduduki oleh orang yang cukup tua atau dianggap sesepuh masyarakat, dan yang muda duduk di bengkilas bawahnya.

Legam arsitektur rumah limas secara filosofis menunjukkan adanya pengaruh strata masyarakat, yang tercermin yang tercermin pada ketinggian lantai yang berbeda. lantai tertinggi merupakan ruang gegajah yang diperuntukan bagi pemilik rumah, sedangkan lantai berikutnya yang lebih rendah, kearah depan diperuntukkan bagi kelompok masyarakat tertentu sesuai statusnya.

Ruang gegajah berada di bengkilas pocook, tepatnya terletak di bawah puncak atap limas. di ruang gegajah ini terdapat ruang pangkeng, amben tetuo, dan amben keluarga. ruang ini merupakan ruang yang tertinggi dan terhormat dibandingkan dengan ruang-ruang yang lainnya, karena ruang gegajah ini merupakan ruang privasi yang paling tinggi.

Pangkeng merupakan ruang tertutup, yang memiliki dinding empat bidang, yang berfungsi sebagai kamar tidur kepala keluarga atau kamar penganten. pada rumah limas terdapat satu buah pangkeng yang terletak dikiri kanan ruang gegajah. untuk dapat memasuki ruang pangkeng, tidak dapat dilalui begitu saja, karena di bawah pintu pangkeng di tambah papan penghalang setinggi lebih kurang enam puluh sentimeter. pada uparaca perkawinan adat, biasanya pangkeng dijadikan sebagai kamar pengantin, sehingga disebut pangkeng pengantin.

Ruangan lain seperti ruangan keluarga, kepala keluarga, dan anak menantu, sesuai namanya diperuntukkan buat kepala keluarga, keluarga, dan anak menantu. susunan atau pengaturan ruangan seperti itu menunjukkan bahwa rumah limas palembang memiliki penataan atau tata ruang , yang disesuaikan dengan struktur keluarga yang mendiami sebuah rumah. sebuah rumah limas biasanya didiami oleh beberapa keluarga inti, yang berasal dari satu keturunan.

Ditengah-tengah ruang gegajah, terdapat apa yang disebut amben tetuo. fungsi amben tetuo adalah sebagai tempat pemilik rumah menerima tamu kehormatan atau besan, dan sebagai tempat pelaminan penganten pada acara perkawinan.

Pawon merupakan ruang dapur yang berfungsi untuk kegiatan yang bersifat service , misalnya memasak, makan, dan sebagainya. lantai pada ruang pawon lebih rendah dari lantai di ruang gegajah.

Hampir disemua kegiatan sosial kemasyarakatan dilakukan didalamnya, mulai dari tapu, musyawarah antar sanak famili dan handai taulan , sampai pada upacara hajatan , seperti mencukur anak, menikahkan , serta pada saat upacara kematian. oleh karena itu, rumah limas sering disebut tempat tinggal yang multi fungsi.

Adanya pengaruh jawa pada budaya palembang merupakan sesuatu yang tidak terbantahkan, dan menjadi identitas khas kebudayaan palembang. hal ini menyiratkan bahwa pada masa dahulu masyarakat palembang telah berinteraksi dengan suku bangsa lain, dan hidup bersama dalam keanekaragaman budaya sejak dahulu. interaksi atau kontak budaya itu tidak hanya dengan suku bangsa jawa, tetapi juga dengan etnis lain seperti arab, cina, minang, dan lainnya. hal itu menggambarkan bahwa bagi masyarakat palembang, heterogenitas kebudayaan atau multikultural, bukanlah sesuatu yang baru dan merupakan identitas khas, yang seyogyanya tetap terjaga dan lestari.

Bagi pembaca yang ingin melihat palembang tempo doeloe dan Picture lebih banyak tentang palembang silahkan kunjungi blog berikut; www.wisata-palembang.blogspot.com

Label:

Kamis, 25 September 2008

WISATA SUNGAI MUSI






Bila saudara-saudara atau Temen-Temen ke kota Palembang Dan ingin Berwisata sungai, Palembang Memiliki wisata sungai yaitu sungai musi.

Label:

MASJID AGUNG PALEMBANG



Mahmud Badaruddin I (Jayo Wikramo) meletakan batu pertama pendiri Mesjid Agung pada 1 Jumadil Akhir 1151 H (=1738 M). Bangunan ini berdiri dibelakang Kuto besak, Istana Sultan yang dulunya terletak disuatu Pulau yang dikelilingi oleh Sungai Musi, Sungai Sekanak, Sungai Tengkuruk, dan Sungai Kapuran Bangunan Masjid Pertama kali berukuran hampir berbentuk Persegi empat yaitu 30 x 36 m. Keempat sisi bangunan ini terdapat empat penampilan yang berfungsi sebagai pintu masuk, kecuali dibagian barat yang merupakan mihrab. Atapnya berbentuk atap tumpung, terdiri dari tiga tingkat yang melambangkan filosofi keagamaan, atap berundak adalah pengaruh dari candi. Bahan-bahan yang dupergunakan adalah bahan kelas satu eks impor dari Eropa. arsitek Masjid orang sedangkan tenaga tehnis dilapangan adalah orang-orang china. sulitnya mendatangkan material bangunan, maka pekerjaan ini cukup lama dan Masjid Baru dapat di resmikan pada Tanggal 28 Jumadil awal 1161 H atau 26 Mei 1748 M. Pada awalnya Masjid ini tidak mempunyai menara, barulah pada Tahun 1753 di buat menara yang beratap genteng dan tahun 1821 ber ganti atap sirap dan penambahan tinggi menara yang dilengkapi dengan beranda lingkar. Setelah 100 tahun lebih berdirinya masjid yaitu tahun 1848 diadakan rencana perluasan oleh Pemerintah Kolonial sebelum perluasan diadakan perubahan bentuk gerbang serambi masuk dari bentuk tradisional menjadi bentuk Doric. Pada tahun 1879 telah diadakan perunbahan masjid, perluasan bentuk gerbang serambi masuk di bongkar ditambanh serambi yang terbuka dengan tiang benton bulat sehingga bentuknya seperti Pendopo atau seperti gaya banguan kolonial ini adalah perluasan pertama dan penambahan rancangan dan tahun 1874 dilaporan bentuk menara beruba dari aslinya dan tahun 1916 menara ini disempurnakan lagi. Pada tahun 1930 diadakan perubahan yaitu menambah jarak pilar menjadi 4 m dari atap. sSetelah kemerdekaan tahun 1952 dilakukan perluasan ketiga dengan bentuk yang tidak lagi harmonis dengan aslinya dengan ditambah kubah. pengurus yayasan masjid agung 1966 -1979 meneruskan penambahan ruangan dengan menambah bangunan lantai 2 yang selesai tahun 1969. Pada tanggal 22 januari 1970 dimulai Pembanguan menara baru dengan tinggi 45 meter, bersegi 12 yang dibiayai Pertamina dan di resmikan pada Tanggal 1 Februari 1971. Sejak tahun 2000 Masjid ini di renovasi dan selesai pada tanggal 16 Juni 2003 yang diresmikan oleh Presiden RI Hj. Megawati Soekarno Putri, Masjid ini terletak di Pusat Kota Palembang.

Label:

KANTOR LEDENG



Pembangunan Menara Air, yaitu instalasi pengolahan air bersih pada masa Walikota Palembang dijabat Ir. R.C.A.F.J. Le Cocq d?Armandville dapat dikatakan sungguh luar biasa. Pasalnya, saat itu keuangan Haminte (Gemeente) Palembang sedang dalam kondisi yang sangat buruk. Ketika tercetus ide untuk membangun Menara Air ?akhirnya dikenal sebagai Kantor Ledeng?pada tahun 1928, utang Haminta Palembang sudah menumpuk. Untuk pajak jalan dan jembatan saja, mencapai 3,5 ton emas, Ini belum lagi keterpurukan akibat parahnya sistem administrasi. Setahun kemudian, 1929, setelah pembuatan master plan kotyaoleh Ir. Th. Karsten, dibangunlah sarana air bersih. Selain bangunan berupa menara ?saat ini, pendidtribusiannya dikenal sebagai sistem gravitasi?setinggi 35 meter dan luas bangunan 250 meter persegi. Bak tampungnya berkapasitas 1.200 meter kubik. Arsitek yang menangani pembangunan gedung ?juga dimanfaatkan sebagai Kantor Haminte dan Dewan Kota?ini adalah Ir. S. Snuijf. Dipilihlah lokasi gedung di tepi Sungai Kapuran dan Sungai Sekanak. Sehingga pada masa itu, posisi Kantor Ledeng tepat di tepian air. Namun kemudian, seiring dengan pembangunan jembatan yang melintasi Sungai Sekanak, Sungai Kapuran pun ditimbun. Akibatnya dapat diduga. Jalan yang melintas di depan Kantor Ledeng itu pun mengalami banjir saat musim hujan disertai pasang naik Sungai Musi. Ini terlihat pada sebuah foto yang berangka tahun 1930-an. Pada saat Kemerdekaan RI diproklamasikan, 17 Agustus 1945, Kantor Ledeng menjadi saksi heroisme pemuda di Palembang. Para pejuang yang terdiri atas bekas opsir Gyu Gun, yaitu Hasan Kasim, M. Arief, Dany Effendy, Raden Abdullah (Cek Syeh), Rivai, dan mantan opsir Gyu Gun lainnya, bekerja sama dengan kelompok pemuda yang dipimpin Mailan beserta pembantunya, Abihasan Said dan Bujang Yacob. Mereka mengibarkan bendera kebangsaan di empat sisi atas Kantor Ledeng.

Label:

RUMAH LIMAS


Rumah Limasmerupakan prototype rumah tradisional Palembang, selain ditandai denagn atapnya yang berbentuk limas, rumah limas ini memiliki ciri-ciri; - Atapnya berbentuk Limas - Badan rumah berdinding papan, dengan pembagian ruangan yang telah ditetapkan (standard) bertingkat-tingkat.(Kijing) - Keseluruhan atap dan dinding serta lantai rumah bertopang di atas tiang-tiang yang tertanam di tanah - Mempunyai ornamen dan ukiran yang menampilkan kharisma dan identitas rumah tersebut Kebanyakan rumah Limas luasnya mencapai 400 sampai 1.000 meter persegi atau lebih, yang didirikan di atas tiang-tiang kayu Onglen dan untuk rangka digunakan kayu tembesu Pengaruh Islam nampak pada ornamen maupun ukiran yang terdapat pada rumah limas. Simbas (Platy Cerium Coronarium) menjadi symbol utama dalam ukiran tersebut. Filosofi tempat tertinggi adalah suci dan terhormat terdapat pada arsitektur rumah limas. Ruang utama dianggap terhormat adalh ruang gajah(bahasa kawi= balairung)terletak ditingkat teratas dan tepat di bawah atap limas yang di topang oleh Alang Sunan dan Sako Sunan. Diruang gajah terdapat Amben (Balai/tempat Musyawarah) yang terletak tinggi dari ruang gajah (+/- 75 cm). Ruangan ini merupakan pusat dari Rumah Limas baik untuk adat, kehidupan serta dekorasi. sebagai pembatas ruang terdapat lemari yang dihiasi sehingga show/etlege dari kekayaan pemiliki rumah. Pangkeng (bilik tidur) terdapat dinding rumah, baik dikanan maupun dikiri. Untuk memasuki bilik atau Pangkeng ini, kita harus melalui dampar (kotak) yang terletak di pintu yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan peralatan rumah tangga. Pada ruang belakang dari segala terdapat pawon (dapur) yang lantainya sama tingkat dengan lantai Gegajah tetapi tidak lagi dibawah naungan atap pisang sesisir. Dengan bentuk ruangan dan lantai berkijing-kijing tersebut, maka rumah Limas adalah rumah secara alami mengatur keprotokolan yang rapi, tempat duduk para tamu disaat sedekah sudah ditentukan berdasarkan status tersebut di masyarakat

Label:

PULAU KEMARAU


Pulau yang terletak di bagian hilir Sungai Musi ini luasnya sekitar 5 ha. Di atasnya, kini berdiri sebuah kelenteng Hok Ceng Bio yang mulai dibangun tahun 1962. Sebelumnya, kelenteng ini hanya berupa bangunan gubuk. Bagi penganut Budha, Kong Hu Cu, dan Tridharma di Palembang, pulau ini memiliki makna ritual yang tinggi. Selain menjadi pusat kegiatan Cap Go Meh (Hari Raya yang diselenggarakan pada hari ke-15 setelah Sincia atau Tahun Baru Kalender Lunar?juga dipercaya sebagai lambang cinta sejati. Kepercayaan ini berangkat dari legenda mengenai terbentuknya Pulau Kemaro. Pangeran dari Negeri Cina, Tan Bun An, menikahi seorang putri Raja Palembang, Siti Fatimah. Keduanya meninggal di Sungai Musi. Setiap tahun memasuki malam kelima belas setelah Imlek, Pulau Kemaro dipadati penganut Tridharma yang merayakan Cap Go Meh. Bukan hanya berasal dari Indonesia, para penganut Tridharma, Budha, dan Kong Hu Cu yang berasal dari mancanegara pun hadir di pulau ini. Perayaan bulan purnama pada bulan Cia Gwee (bulan pertama tahun lunar) ini dilakukan semua marga Tionghoa, baik ia beragama Budha, Taoisme, atau Kong Hu Chu. Tetapi, untuk ritual sembahyang, hanya dilakukanoleh umat Tridharma. Perayaan serupa ini tidak hanya berlangsung di Kelenteng Hock Ceng Bio, Pulau Kemaro. Daerah lain seperti Manado, Pontianak, Jawa Timur, dan Medan pun menjadi pusat perayaan CapGo Meh. Hanya, perayaan di Pulau Kemaro sangat khas dibandingkan tempat lain Saat ritual berlangsung, sembahyang dilaksanakan di enam tempat, baik di luar maupun dalam kelenteng. Sekitar pukul 23.00 dilakukan sembahyang kepada Thien (Tuhan di langit) selama 15 menit. Ritual dilanjutkan dengan sembahyang bagi Hok Tek Cin Sin (Dewa Bumi) selama 15 menit. Secara faktual, Pulau Kemaro memiliki rangkaian sejarah yang panjang. Masa Kerajaan Palembang, pulau ini menjadi basis pertahanan atau benteng. Karena kekalahan VOC pada tahun 1658, Armada Perang Belanda di bawah pimpinan Joan Van der Laan menargetkan perebutan benteng di pulau ini sebagai prioritas pada perang yang terjadi tahun 1659. Pasca pemberontakan yang dikenal sebagai Gerakan 30 September atau G 30S/PKI, Pulau Kemaro kembali memegang peran sejarah. Di bagian hilir pulau itu, yang mengarah ke muara, dibangun semacam kamp tahanan. Di tempat inilah, orang-orang yang dituduh sebagai anggota PKI ditahan. Sebetulnya, bukan hanya penahanan yang terjadi melainkan juga pembantaian. Bahkan pada masa tahun 1965 akhir hingga tahun 1966, warga Kota Palembang sempat tidak mau makan ikan dan udang dari Sungai Musi.

Label:

Rabu, 24 September 2008

JEMBATAN JMPERA



Sejarah jembatan ampera
Ide untuk menyatukan dua daratan di Kota Palembang " Seberang Ulu dan Seberang Ilir " dengan jembatan, sebetulnya sudah ada sejak zaman Gemeente Palembang, tahun 1906. Saat jabatan Walikota Palembang dijabat Le Cocq de Ville, tahun 1924, ide ini kembali mencuat dan dilakukan banyak usaha untuk merealisasikannya. Namun, sampai masa jabatan Le Cocq berakhir, bahkan ketika Belanda hengkang dari Indonesia, proyek itu tidak pernah terealisasi. Pada masa kemerdekaan, gagasan itu kembali mencuat. DPRD Peralihan Kota Besar Palembang kembali mengusulkan pembangunan jembatan kala itu, disebut Jembatan Musi dengan merujuk na-ma Sungai Musi yang dilintasinya pada sidang pleno yang berlangsung pada 29 Oktober 1956. Usulan ini sebetulnya tergo-long nekat sebab anggaran yang ada di Kota Palembang yang akan dijadikan modal awal? hanya sekitar Rp 30.000,00. Pada tahun 1957, dibentuk panitia pembangunan, yang terdiri atas Penguasa Perang Komando Daerah Militer IV/Sriwijaya, Harun Sohar, dan Gubernur Sumatera Selatan, H.A. Bastari. Pendampingnya, Walikota Palembang, M. Ali Amin, dan Indra Caya. Tim ini melakukan pendekatan kepada Bung Karno agar mendukung rencana itu. Usaha yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan dan Kota Palembang, yang didukung penuh oleh Kodam IV/Sriwijaya ini kemudian membuahkan hasil. Bung Karno kemudian menyetujui usulan pembangunan itu. Karena jembatan ini rencananya dibangun dengan masing-masing kakinya di kawasan 7 Ulu dan 16 Ilir, yang berarti posisinya di pusat kota, Bung Karno kemudian mengajukan syarat. Yaitu, penempatan boulevard atau taman terbuka di kedua ujung jembatan itu. Dilakukanlah penunjukan perusahaan pelaksana pembangunan, dengan penandatanganan kontrak pada 14 Desember 1961, dengan biaya sebesar USD 4.500.000 (kurs saat itu, USD 1 = Rp 200,00). Biaya ini akan dihitung dari pampasan (kompensasi) perang Jepang. Proyek Musi hingga akhir tahun 1970-an, warga Palembang menyebut Jembatan Ampera sebagai Proyek Musi?ini mulai dibangun April 1962 dan selesai pada Mei 1965. Jembatan dengan konstruksi baja yang diperkuat kawat baja itu, memiliki panjang 1.100 meter dengan lebar 22 meter. Keenam kakinya, dipancang sedalam 75 meter. Bagian atasnya, terdapat dua menara setinggi 75 meter dengan jarak bentang antar-menara 71,5 meter. Ketinggian bentang jembatan dari air 11,5 meter saat air surut dan 8 meter saat pasang naik itu dapat diangkat ketika akan dilalui kapal. Saat bentang diangkat, ketinggiannya dari air mencapai 63 meter. Kapal yang dapat melaluinya berukuran tinggi 9 meter-44,5 meter dan lebar 60 meter. Untuk mengangkat bentang jembatan seberat 994 ton ini, ditempatkanlah bandul yang masing-masing seberat 450 ton di kedua menara. Kecepatan angkatnya mencapai 10 meter per detik.

Label:

BENTENG KUTO BESAK PALEMBANG


Benteng kuto besak dibangun selama 17 tahun, dari tahun 1780 sampai tahu 1797. dulunya benteng yang di berinama benteng kuto besak ini dibangun diatas pulau lahan tenpat benteng ini di bangun dulunya dikelilingi oleh sungai,yaitu diantaranya sungai kapuran,( sekarang bagian dari jl. merdeka, sungai musi dibagia utara,sungai sekanak dibagian barat,sungai tengkuruk dibagian timur. sungai sungai yang mengelilingi benteng kuto besak sebagian di timbun oleh pemerintah belanda sekitar tahun 1930 untuk kepentingan kelancaran lalu lintas saat itu.Seperti halnya Sungai Kapuran, Sungai Tengkuruk juga ditimbun Belanda pada awal 1930-an dan dijadikan sebagai jalan. Lokasi jalan, yang kemudian dikenal sebagai Jl. Tengkuruk ini (kini menjadi landasan Jembatan Ampera dan sebagian lagi menjadi Jl. Jenderal Sudirman (sebelumnya, Jl. Talang Jawa), ini sempat berfungsi sebagai boulevard. Pada masa Palembang berbentuk Gementee (Kotapraja), Boulevard Tengkuruk ini dijadikan sebagai bagian dari rute pawai atau karnaval even tertentu Kerajaan Belanda, antara lain hari ulang tahun Ratu Wilhelmina. BKB, yang mulai difungsikan secara resmi pada Senin, 23 Sya?ban 1211 H (21 Februari 1797 M), ini dibangun oleh Sultan Muhammad Bahauddin (1776-1803 M). Pembangunannya dimu-lai pada Ahad, 15 Jumadil Awal 1193 H (1779 M). Pembangunan benteng ter-masuk keraton baru ini merupakan kelanjutan dari gagasan Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo atau SMB I (1724-1758 M). Pendiri Masjid Agung (pada masa itu disebut sebagai Masjid Sulton) itu adalah kakek Sultan Muhammad Bahauddin. Bangunan ini menggunakan bahan batu dan semen (batu kapur serta bubuk tumbukan kulit kerang). Konon, sebagai bahan penguat tambahan, digunakan pula putih telur dan rebusan tulang serta kulit sapi dan kerbau. Benteng berbentuk persegi empat dengan ukuran panjang 290 meter, lebar 180 meter, dan tinggi 6,60 meter-7,20 meter. Di keempat sudutnya, terdapat empat bastion (buluarti) untuk menempatkan meriam. Meriamyang terdapat di keempat sudut benteng inilah yang dipakai untuk menghalau tentara dan menghancurkan armada Belanda pada Perang Palembang I tahun 1819 (Perang Menteng) dan Perang Palembang II tahun 1819. Sesuai dengan posisinya yang dikelilingi sungai, BKB memiliki pintu empat pintu. Yaitu, pintu utama yang menghadap Sungai Musi dan tiga pintu lain, yang masing-masing menghadap Sungai Tengkuruk, Sungai Kapuran, dan Sungai Sekanak.

Label: